Blog kumpulan berita yang terbaru, tips, hiburan, review aplikasi, blogging, cara mengatasi, kumpulan dari berbagai harga, smarphone android, laptop. Karena hidup adalah pilihan

Teror Bom: Kenapa Paris ?


Tragedi #ParisAttacks jilid 2 terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara menggempur markas ISIS di Suriah, dan disebut-sebut menewaskan ‘Jihadi John’

Informasi mengenai serangan teroris di Paris, #ParisAttack jilid 2 yang sejauh ini menewaskan 129 orang.

Seluruh televisi di bandara megah itu menyiarkan breaking news saluran CNN. Saya sempat mengirimkan WhatsApp ke Duta Besar Indonesia di Paris, Letjen TNI (Purn) Hotmangaradja Panjaitan, menanyakan apakah ada korban warga negara Indonesia. Alhamdulillah sejauh ini KBRI belum menerima informasi ada korban WNI dalam serangan brutal itu.

Tiba di bandara internasional Miami, Florida, dampak pasca serangan teror di Paris mulai terasa. Penumpang pesawat Qatar QR 777 yang saya tumpangi harus menunggu agak lama di atas pesawat, dan begitu keluar pintu sudah disambut sejumlah petugas yang mengecek satu per satu paspor dan mewawancarai agak detil para penumpang. Ada dua pemeriksaan sebelum ke pintu imigrasi. Di bandara, ada tentara bersenapan laras panjang menjaga di beberapa sudut.

Paris, yang akan menjadi tuan rumah pertemuaan Conference of Parties (COP) 21 itu sebenarnya sejak 30 Oktober sudah mengetatkan keamanan di pintu perbatasan negara itu. COP 21, atau Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim, akan digelar tanggal 30 November sampai 11 Desember 2015.

Puluhan kepala pemerintahan termasuk Presiden AS Barrack Obama dan Presiden Joko “Jokowi” Widodo dijadwalkan hadir. Serangan Jumat malam ini seperti tamparan menyakitkan bagi keamanan dan intelijen Perancis.

Serangan teror bersenjata dan bom ke The City Of Light terjadi hanya beberapa jam setelah Pentagon mengumumkan serangan udara militer AS ke Raqa, sebuah kota di Suriah yang dipercayai menjadi salah satu pusat kegiatan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Jihadi John, warga Inggris yang namanya mendunia dan dianggap sebagai jagal yang secara sadis mengeksekusi tahanan ISIS, dikabarkan tewas dalam serangan udara itu. Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan serangan udara militer AS adalah aksi membela diri, dan mengatakan kematian Jihadi John, yang nama aslinya adalah Mohammad Emwazi, belum bisa dipastikan.

Begitupun, analis menganggap jika benar Jihadi John tewas dalam serangan udara AS itu, maka kematiannya bisa dianggap sebagai martir oleh kelompok militan dalam ISIS. Melalui pernyataan yang dipublikasikan secara online, ISIS mengaku bertanggungjawab atas serangan berdarah di enam lokasi di Paris itu.

Pernyataan ISIS menanggapi kemarahan Presiden Francois Hollande yang mengatakan serangan itu adalah aksi perang yang dilancarkan ISIS kepada Perancis sebagai negara merdeka.

Baik dalam pernyataan di laman Internet maupun keterangan saksi mata, di antara teroris ada yang berteriak mengecam keterlibatan Perancis dalam serangan militer ke Suriah. Pihak ISIS mengatakan mereka menjadikan Perancis sebagai target utama serangan, dan tidak akan berhenti pada serangan Jumat ini.


Mengapa menyerang di Paris?

Dalam satu abad abad terakhir, Perancis diguncang 13 aksi teror berdarah. Dua serangan terakhir benar-benar mengguncang pemerintahan Hollande.

Ketika terjadi serangan pada Charlie Hebdo, isu diskriminasi yang memiliki sejarah panjang di Paris menjadi bahasan hangat. Paris, kota yang disebut sebagai kota yang romantis dan indah, menyimpan luka dalam akibat kekerasan dalam tindak bernuansa diskriminatif bagi kaum imigran.

Laman Guardian memuat tulisan Nabila Ramdani yang berjudul Charlie Hebdo: Don’t blame this bloodshed on France’s Muslims.
Saya kutipkan sebuah paragrafnya,“Sadly, the French capital has been associated with some of the worst barbarism in human history”.

Ramdani menuliskan mulai dari Revolusi 1789 yang menewaskan ribuan orang, banyak di antaranya dihukum pancung di depan publik. Pembunuhan massal terjadi di jalanan, alun-alun kota antara abad ke-19 dan 20, melalui dua masa perang dunia.

Pada yang kedua, puluhan ribu Yahudi dieksekusi dan dikirim ke kamp konsentrasi yang mematikan. Pasca perang banyak gendarmes, polisi militer Prancis yang mendapat pelatihan dari Gestapo, terlibat dalam aksi brutal terhadap warga Aljazair yang harus menyingkir dari negaranya karena memperjuangkan kemerdekaan dari jajahan Perancis.

Jadi, kata Ramdani yang tinggal di Paris, tiga orang Perancis keturunan Aljazair yang dipercaya bertanggungjawab atas kematian 12 orang dalam #ParisAttack jilid 1, 7 Januari 2015 boleh jadi adalah aktivitas “kini” dari bentuk perlawanan yang pernah terjadi tahun 1960-an, ketika mereka memindahkan medan perang di Aljazair ke Paris.

Sebuah insiden berdarah tahun 1961, menyebabkan 200 orang Aljazair dibantai di area berbagai monumen populer di Paris, termasuk di sekitar Menara Eiffel dan Katedral Nortre Dame. Sejumlah jembatan cantik di sepanjang Sungai Seine menjadi saksi banyaknya orang keturunan Aljazair yang dibenamkan di sungai itu sampai mati.

Ramdani mengingatkan sejarah panjang diskriminasi dan kekerasan yang dialami minoritas yang tinggal di Paris. Kini Paris menjadi rumah bagi sekitar 4 juta warga Muslim, terbesar di Eropa. Sebagian besar berasal dari negara Afrika, negara bekas jajahan Perancis.

Politisi di Perancis, baik dari sayap kiri maupun kanan, sudah terbiasa menyalahkan Islam sebagai penyebab beragam bentuk problem sosial yang terjadi di sana. Problem sosial yang sebenarnya dipicu oleh diskriminasi di semua lini, termasuk dalam hak mendapatkan pekerjaan dan perumahan. Sebenarnya, tidak ada kaitannya dengan agama.

Polisi menemukan sidik jari Cherif Kouachi, salah satu pelaku tragedi serangan ke Charlie Hebdo, dalam barang yang disita dari rumahnya. Di antaranya bendera “jihadi” yang biasa digunakan kelompok Al-Qaeda dan ISIS.

Kita mengikuti, sesudah serangan berdarah ke kantor media Charlie Hebdo, sejumlah masjid di sekitar Paris menjadi target kemarahan publik. Kekerasan, sebagaimana sejarah Paris, pula sejarah dunia, selalu memancing kekerasan. Begitu siklusnya.

“Menimpakan kesalahan pada jutaan Muslim Perancis yang tinggal di sana dan mematuhi hukum yang berlaku, adalah sama sinisnya dengan mereka yang mencoba menyalahkan sekelompok penulis dan seniman kartun,” kata Ramdani.

Saya menyepakati apa yang menjadi keresahan Ramdani, pula sikapnya.

Baca artikel menarik kami sebelumnya: 7 Manfaat Menakjubkan Jambu Biji Bagi Kesehatan Tubuh Anda

Setelah terjadinya #ParisAttacks jilid dua, saya yakin Ramdani makin resah. Begitu pula rakyat Perancis, pula masyarakat di kawasan Uni Eropa. Sejak berdiri, ISIS menargetkan rekrutmen di kawasan Eropa. Pernyataan bertanggungjawab atas serangan berdarah Jumat ini bakal membuat fobia terhadap Islam menguat di sana, begitu pula sikap terhadap kaum imigran.

Sejumlah tokoh Islam dunia mengecam tindakan teror yang justru menyerang Islam, karena membawa nama Islam dalam nama kelompok dan seruan “Allahu Akbar”. Hal serupa terjadi setiap kali ada aksi teroris yang membawa nama Islam di Indonesia. Tidak ada jaminan bahwa semangat kelompok militan Islam redup.

Teror, sebuah aksi kekerasan yang bertujuan menyebarkan ketakutan di masyarakat memang bisa dilakukan oleh siapa saja, agama maupun kelompok mana saja. Teror bom di Mal Alam Sutra Oktober lalu, misalnya dilakukan oleh Leopard Wisnu, seorang beragama Katolik. Sejauh ini motifnya ekonomi.

Anders Behring Breivik, pelaku Bom Oslo mengatakan bahwa aksi teror yang dia lakukan bertujuan mencari perhatian atas manifesto yang dibuatnya, Deklarasi Kemerdekaan Eropa. Di dalamnya terkandung sikap Islamofobia, anti-feminisme dan anti-budaya Marxisme.
Begitupun, aksi teror yang mengatasnamakan Islam memang menjadi sorotan dunia sejak Tragedi 11 September 2001. Sejak itu, AS memimpin koalisi perang melawan teror dan mengajak serta sekutunya, terutama di Eropa, termasuk Perancis, negeri yang memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di Eropa, dengan masyarakat yang majemuk.

Mudah “terbakar” isu diskriminasi. Perancis misalnya memberlakukan larangan penggunaan hijab di bagi perempuan Islam. Aturan yang membatasi kemerdekaan berekspresi ini didukung oleh publik di sana termasuk politisinya.

Di luar isu internal, Perancis tergolong negara yang paling getol mendukung perang melawan kelompok militan Islam di sejumlah negara. Sedikitnya 10.000 tentara Perancis diterjunkan di beberapa kawasan di Afrika yang memiliki penduduk Islam cukup besar, termasuk di dalamnya 3.200 di Irak, memerangi ISIS.

Perancis juga mengalami problem radikalisasi di penjara. Meskipun data pastinya sulit dicari, namun diperkirakan 70 persen dari tahanan di penjara di Perancis beragama Islam. Bandingkan dengan di Inggris yang sekitar 14 persen. Mereka yang pernah dipenjara karena aksi teror, justru kian radikal dan mengulangi aksinya.


Faktor internal dan politik luar negeri Perancis membuat serangan teroris dengan mengatasnamakan Islam besar kemungkinan terjadi di sana. Ini yang kita lihat dengan #ParisAttacks jilid 1 dan 2.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Teror Bom: Kenapa Paris ?

0 komentar: