Blog kumpulan berita yang terbaru, tips, hiburan, review aplikasi, blogging, cara mengatasi, kumpulan dari berbagai harga, smarphone android, laptop. Karena hidup adalah pilihan

ISIS didukung dalam teror di Paris?


ISIS adalah kelompok ekstremis yang mengikuti ideologi garis keras Al-Qaidah dan menyimpang dari prinsip-prinsip jihad. Seperti al-Qaeda dan banyak kelompok jihad modern lainnya, ISIS muncul dari ideologi Ikhwanul Muslimin, kelompok Islam pertama di dunia pada tahun 1920-an di Mesir. ISIS mengikuti ekstrim anti-Barat yang menurutnya sebagai penafsiran Islam, mempromosikan kekerasan agama dan menganggap mereka yang tidak setuju dengan tafsirannya sebagai kafir dan murtad. Secara bersamaan, ISIS (sekarang IS) bertujuan untuk mendirikan negara Islam Salafi yang berorientasi di Irak, Suriah dan bagian lain dari Syam.

Ideologi ISIS berasal dari cabang Islam modern yang bertujuan untuk kembali ke masa-masa awal Islam, menolak "inovasi" dalam agama yang mereka percaya telah "korup" dari semangat aslinya. Mereka mengutuk kekhalifahan terakhir dan kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman Empire; sekarang Republik Turki) karena menyimpang dari apa yang mereka sebut sebagai Islam murni dan karenanya telah berusaha untuk membangun kekhalifahan sendiri. Namun, ada beberapa komentator Sunni, Zaid Hamid, misalnya, dan bahkan Salafi dan mufti jihad seperti Adnan al-Aroor dan Abu Basir al-Tartusi, yang mengatakan bahwa ISIS dan kelompok teroris yang terkait tidak mempresentasikan Sunni sama sekali, tapi menuduh Khawarij bidah yang melayani agenda kekaisaran anti-Islam.

Baca artikel menarik kami yang lainnya: Setya Novanto dan Jusuf Kalla

Salafi seperti ISIS percaya bahwa hanya otoritas yang sah dapat melakukan kepemimpinan jihad, dan bahwa prioritas pertama atas pertempuran di daerah lain, seperti berperang melawan negara-negara non-Muslim, adalah sebagai pemurnian masyarakat Islam. Misalnya, ketika memandang konflik Israel-Palestina, karena ISIS menganggap kelompok Sunni Palestina Hamas sebagai murtad yang tidak memiliki kewenangan yang sah untuk memimpin jihad, mereka anggap melawan Hamas sebagai langkah pertama sebelum menuju konfrontasi dengan Israel.

Adrian Fadillah, contohnya menulis di Facebook BBC Indonesia, "Kemarin beberapa saat setelah teror Paris, seperti kebanyakan orang, saya mengunggah gambar 'Pray for Paris'. Seolah saya turut bersedih.

"Padahal tidak! Pagi ini saya memutuskan untuk menghapus gambar-gambar itu dari beberapa akun media sosial yang saya punya. Saya tidak berdoa untuk Paris... Saya bosan dengan semua sentimen Islamofobik yang memojokkan Islam."

Meski tidak mendukung aksi teror tersebut, namun juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto, merasa aksi tersebut merupakan konsekuensi atas tindakan-tindakan Prancis selama ini.
"Kalau mereka tidak mau warga negaranya tercederai, maka jangan juga mencederai warga negara lain. Marilah kita juga melakukan penilaian secara adil.

"Kita kutuk, serangan Prancis tapi kita kutuk juga itu invasi Amerika ke Irak, kita kutuk invasi Amerika ke Afghanistan, kita kutuk invasi Rusia ke Suriah. Kita kutuk Prancis itu yang telah melakukan kejahatan serupa di Suriah," tutur Ismail.


Berpikir kritis dan cerdas

Sedangkan Ulil Abshar Abdalla -salah seorang tokoh Jaringan Islam Liberal atau JIL- mengatakan sebagian besar masyarakat Muslim mengutuk serangan di Paris namun jelas ada kelompok yang mendukung ISIS karena alasan tertentu.

"Ya orang-orang yang mendukung ISIS menganggap bahwa kekerasan yang mereka lakukan di Paris sebagai pembalasan terhadap keterlibatan negara-negara Barat dalam penyerangan di dunia Islam.
Jadi mereka menganggap, kenapa orang-orang harus merasa jijik dengan kekerasan ISIS sementara kekerasan serupa dilakukan oleh negara-negara Barat di dunia Islam. Jadi, ini semacam balasan yang setimpal. Ya, itu cara mereka berpikir," jelas Ulil.


Oleh karenanya, Ulil menyarankan agar masyarakat bersikap lebih kritis dan cerdas dalam memahami Islam secara kontekstual. ISIS mengatakan mereka bertanggung jawab atas serangkaian pengeboman dan penembakan di Paris yang menewaskan 128 orang pada hari Jumat lalu. Selain itu, ISIS mengatakan Prancis dan pihak-pihak sekutunya tetap menjadi sasaran ISIS.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : ISIS didukung dalam teror di Paris?

0 komentar: