Blog kumpulan berita yang terbaru, tips, hiburan, review aplikasi, blogging, cara mengatasi, kumpulan dari berbagai harga, smarphone android, laptop. Karena hidup adalah pilihan

Tes Keperawanan untuk Prajurit Wanita TNI, dengan alasan Diskriminasi untuk Moral? Lalu Dimanakah Logika Ilmiah Penjelasan Diskriminasi demi Moral?

Kelompok pegiat hak asasi manusia satu kata bahwa masalah tes keperawanan prajurit wanita Tentara Nasional Indonesia : diskriminatif! Mulai dari Human Rights Watch yang berbasis di New York sampai Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta Indonesia kompak menentang tes keperawananuntuk calon tentara TNI wanita ini.

Adapun Komisioner Komnas HAM Sandra Moniaga menjelaskan pada CNN Indonesia, Sabtu (16/5), bahwa  TNI semestinya menghormati privacy yang dipunyai golongan wanita. Ia berasumsi tidak ada argumen kuat untuk mengaplikasikan tes itu. Terlebih laporan World Health Organization th. 2014 menyebutkan tes keperawanan tidak bisa dipertanggungjawabkan dengan cara ilmiah.

Tes keperawanan pada calon prajurit wanita TNI ini mencuat sesudah Human Rights Watch mengangkat isu ini lewat website resminya. Mereka menekan Indonesia untuk meniadakan tes keperawanan untuk calon tentara wanita serta calon istri tentara. Bahkan wanita PSK pun yang bisa bertobat sungguh dapat menjadi manusia paling baik dari pada koruptor bukan?



Tes Keperawanan adalah Tes Moral ?

Tetapi Panglima TNI Jenderal Moeldoko tidak ambillah pusing dengan tekanan Human Rights Watch. “Tes itu salah satu prasyarat masuk TNI. Sisi dari tes moral. Apa masalahnya? Bila untuk kebaikan mengapa mesti dikritik? ” kata dia.

Waktu di tanyakan relevansi ilmiah antara tes keperawanan dengan kekuatan seseorang wanita dalam menggerakkan tugas panggilannya sebagai prajurit tentara, Moeldoko menjawab bahwa hal itu memang tidak berhubungan langsung. Dia cuma menuturkan bahwa ada tiga hal yang perlu dipunyai seseorang prajurit TNI, yaitu moralitas, akademik, serta kemampuan fisik.

Tes keperawanan, sebut Moeldoko, merupakan bagian dari sisi penilaian moralitas. " Ya itu sesungguhnya (penilaian moralitas). Tidak ada maksud tersembunyi lain seperti merendahkan perempuan, " ucap Moeldoko.

Sontak saja Komnas HAM tidak sepakat dengan perkataan Moeldoko ini. “Apa hubungannya moral dengan keperawanan? Apakah seseorang yg tidak perawan lantaran terluka disebabkan berolahraga atau diperkosa, moralnya buruk? Apakah seorang PSK yang terpaksa melakukan pekerjaan kotor itu moralnya betul-betul buruk? Dan bagaimana jika perempuan yang moralnya buruk, tetapi betul-betul bertobat dan memperbaiki diri? Lalu hubungan keperawanan itu apa? TNI dapat memakai rekam jejak serta banyak tes lain tanpa ada mesti memakai tes keperawanan, " kata Sandra.

Menurut dia, tes keperawanan juga bahwa jelas hal tersebut tidak mematuhi hak asasi manusia khususnya manusia perempuan, lantaran tiap-tiap orang memiliki hak meningkatkan diri, memperbaiki diri, hidup bahagia sejahtera dan termasuk juga dengan masuk ke TNI.

Apabila calon prajurit wanita wanita melakukan tes keperawanan, jadi semestinya calon tentara pria juga dites hal serupa bukan?. “Nah, namun bagaimanakah menilainya seseorang lelaki masih perjaka atau tidak? Diskriminatif kan? ” tutur Sandra

Selanjutnya Komnas HAM memiliki pendapat bahwa tes itu tak relevan serta tidak bisa menjadi jaminan yang pasti berkenaan moral seseorang tentara yang baik. Banyak laki-laki prajurit TNI yang lebih bejat moralnya dari pada perempuan bukan??

Adapun Wacana tentang tes keperawanan ini pertama kali diangkat oleh Human Rights Watch di situsnya, Rabu (13/5/2015). Kelompok pengawas pelanggaran hak asasi manusia yang berbasis di New York, Amerika Serikat, itu meminta TNI untuk menghapuskan tes keperawanan untuk calon tentara wanita serta calon istri tentara.

Menurut mereka (HRW), sudah ada perjanjian-perjanjian internasional yang menyebutkan praktik-praktik itu merendahkan martabat serta kejam. Tes-tes itu dengan cara internasional sudah disebut juga sebagai pelanggaran hak atas non-diskriminasi serta larangan " perlakuan kejam, tak manusiawi atau merendahkan", perjanjian-perjanjian hak asasi internasional itu pun sudah diratifikasi sendiri oleh Indonesia.


" Angkatan Bersenjata TNI Indonesia mesti mengerti bahwa 'tes keperawanan' yang melukai serta membuat malu wanita dalam tes masuk itu tak ada hubungannya dengan tingkatkan keamanan nasional, " tutur Nisha Varia, Associate Director untuk Hak Wanita HRW.
Demikian info dari kami, jangan lupa ya baca juga artikel menarik kami lainnya, Download Game PC Di Komputermu, Ini Caranya Mudah, praktis, Menyenangkan dan Mengasah Otakmu jugaa!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :